Minggu, 29 Desember 2013

Sejarah Komunitas Online, Polaritas dalam Internet, Kelompok Unik dan Kelompok Kerja dalam Internet, dan Tim Virtual

Psikologi dan Internet dalam Lingkup Interpersonal 4

      I.            Pembahasan

Pertumbuhan jaringan Komputer global yang disebut internet, berjalan cepat. Internet memfasilitasi munculnya interaksi online yang cepat tersebar. Interaksi ini membentuk suatu komunitas yang disebut komunitas online. Komunitas ini memiliki berbagai kepentingan dari kelompok-kelompok kecil yang terlibat dalam diskusi dengan topik tertentu, sampai jaringan pemasaran barang dan informasi. Media ini juga bisa digunakan untuk agenda kepentingan politik, sarana komunikasi keluarga dan etnis, penjualan barang konsumsi, sampai kepentingan perusahaan multinasional.

Praktek sosial budaya yang berkomunikasi dengan bahasa, interaksi sosial, muncul dari informasi dan teknologi komunikasi baru. Orang melihat ruang internet dan teknologi sebagai “terus-menerus dengan dan tertanam dalam ruang sosial lain” yang “terjadi dalamduniawi sosial struktur dan hubungan yang mereka mungkin mengubah tetapi mereka tidak dapat melarikan diri “(Miller & Slater 2000, hal 5).
Suatu pendekatan antropologi dibangun untuk melihat fenomena interaksi online. Adanya interaksi online yang memunculkan komunitas, memunculkan perdebatan bagaimana dengan komunitas online, apakah bias disebut komunitas, apakah itu komunitas, bagaimana komunitas online itu. Pembahasan tentang konsep interaksi, kelompok, masyarakat juga muncul. Perdebatan juga muncul dalammendekonstruksi dikotomi dari offline dan online, nyata dan virtual, dan individu dan kolektif.
   II.            Rumusan Masalah 
1. Bagaimana sejarah komunitas online? 
2. Apa yang dimaksudkan dengan polarisasi dalam internet dan kelompok? 
3. Apa saja kelompok unik dalam internet dan kelompok kerja virtual? 
4. Apa yang dimaksud kelompok kerja dan brainstorming elektronik?
5. Bagaimana cara mengembangkan kepercayaan dalam tim virtual?  

III. Tujuan 

1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami sejarah terbentuknya komunitas online (social network). 
2. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami ada dan terjadinya polarisasi dalam internet. 
3. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami berbagai kelompok yang terbentuk di internet. 
4. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami adanya brainstorming elektronik dalam kelompok. 
5. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang pengembangan kepercayaan dalam virtual.

III.            Pembahasan

A.        Sejarah Komunitas Internet. 

Internet masih dalam masa inovasi, eksperimentasi dan perubahan yang cepat. Kemampuan kelompok dan individu berinteraksi pada jarak yang berjauhan menimbulkan pertanyaan menarik bagi mereka menyelidiki masalah identitas, interaksi sosial, dan aksi kolektif, politik. Namun dalam perkembangan internet juga menyingkirkan representasi kekuatan tradisional seperti penduduk asli Amerika dalam budaya popular.

Jaringan komputer adalah produk budaya yang ada di dunia sosial dan politik di mana mereka dikembangkan, dan tidak bebas dari aturan dan norma-norma yang ada. 
Penggunaan sosial Internet dan keberadaannya yang dimulai dari jaringan komputer di tahun 1960, menakjubkan dan hampir tak terduga (Berners-Lee & Fischetti 1999)
Praktek komunikatif dari masyarakat ini menarik perhatian antropolog, sehingga mereka berusaha menciptakan pendekatan analitis baru untuk virtual-ruang, untuk mempelajari komunikasi manusia dan budaya.
B.       Polarisasi dalam Internet – Polarisasi Kelompok. 
Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih keras. 

Berdasarkan perbedaan status, keadaan, kepribadian, dan kebiasaan para pengguna internet umumnya akan terbentuk kelompok-kelompok atau forum-forum yang memiliki tujuan masing-masing. Pengelompokan di internet juga dapat berasal dari fasilitas internet yang beragam seperti beragamnya layanan yang disediakan internet seperti fasilitas jejaring sosial, fasilitas streaming, fasilitas berbagi informasi, fasilitas unggah dan unduh, fasilitas jual beli, fasilitas cloud software, dan sebagainya. Hal tersebut dapat kita katakan sebagai sebuah polarisasi internet, yang daripadanya akan terbentuk kelompok-kelompok pengguna.

C.      Kelompok Unik dalam Internet – Kelompok Kerja Virtual. 
Di dalam dunia internet terdapat banyak sekali kelompok-kelompok atau biasa yang disebut dengan komunitas (fanbase) dari kelompok musik, kelompok jual beli barang, kelompok sosial, dsb. Ini sangat bermanfaat bagi si pengguna karena mulai dari dunia maya kita dapat mengenal satu sama lain orang-orang yang mempunyai hobi dan kebiasaan yang sama, orang-orang yang tadinya tidak kita kenal tetapi dengan adanya kelompok unik ini melalui internet kita dapat bersosialisasi dengan anggota-anggota lain.
Kelompok Unik di Internetvterjadi karena perbedaan layanan pada internet seperti :

        1. Jejaring Sosial,    
        2. Streaming
        3. Forum Komunitas Maya 
        4. Cloud Storage 
        5. Surel 
        6. Blog 
        7. Milist 
        8. Chatting dan Teleconference

D.         Kelompok Kerja & Brainstroming Elektronik. 
Brainstorming merupakan teknik kreativitas yang dirancang untuk menghasilkan sejumlah ide - ide besar untuk solusi suatu masalah. Elektronik brainstorming adalah versi komputerisasi dari teknik brainwriting manual. Hal ini biasanya didukung oleh sistem rapat elektronik (EMS), tetapi juga bentuk yang lebih sederhana dapat dilakukan melalui email dan mungkin browser berbasis, atau menggunakan peer-to-peer software. Dengan sistem pertemuan elektronik, peserta berbagi daftar ide di atas internet. Ide dimasukkan secara independen. Kontribusi segera menjadi terlihat untuk semua dan biasanya anonim untuk mendorong keterbukaan dan mengurangi prasangka pribadi. Modern EMS juga mendukung sesi brainstorming asynchronous selama waktu yang lama serta kegiatan tindak lanjut khas dalam pemecahan masalah secara kreatif kategorisasi proses seperti ide, penghapusan duplikat, penilaian dan diskusi atau kontroversial diprioritaskan brainstorming ide.

E.         Mengembangkan Kepercayaan dalam Tim Virtual. 
Untuk menciptakan teknologi baru para anggota Tim Virtual dituntut untuk berkolaborasi antar anggota tim . Hal ini hars ditunjang dengan dipupuknya kepercayaaan antar anggota tim . Hal ini dapat dilakukan oleh Leader tim dengan melakukan langkah - langkah sebagai berikut :

·         Meningkatkan tanggung jawab bersama

·         Pertukaran informasi

·         Pengembangan ide - ide baru

·         Memberikan motivasi kepada team

·         Berani mengambil resiko dan tanggung jawab ketika proyek tersebut mendapat masalah dan dengan cepat menyelesaikan masalah tersebut

·         Menciptakan kejujuran dan keterbukaan satu sama lain 

IV.            Kesimpulan

Social Media is an online media, the users can easily participate, share, and create content includes blogs, social networking, wikis, forums and virtual world. Blogs, social networks and wikis is a form of social media that is most commonly used by people around the world. Based on the differences in status, circumstances, personality, and habits of Internet users in general will form groups or forums that have the purpose of each.

Daftar Pustaka




Internet Addiction (Tulisan)

Psikologi dan Internet dalam Lingkup Intrapersonal 3

Internet addiction? Sounds unlikely, right? How can the use of a positive, dynamic force like the Internet become a negative, debilitating factor in someone’s life. Simple. Just like the use of food, the drinking of alcohol, or the purchasing of material things can escalate into misuse and abuse, so can one’s interest in and preoccupation with using the Internet become an addiction. Let’s take a look at several key facets of this developing phenomenon of Internet Addiction, starting with a basic definition which is taken from Dr. Kimberly B. Young’s book Caught in the Net.

What is Internet Addiction?
Internet Addiction is a broad term covering a wide-variety of behaviors and impulse control problems. It is important to understand that there are at least five specific types of Internet addiction:
·         Cybersexual Addiction (addictions to adult chat rooms or cyberporn).
·         Cyber-relationship Addiction (online friendships made in chat rooms, MUDs, or newsgroups that replace real-life friends and family, this also includes the issue of cyberaffairs).
·         Net Compulsions (compulsive online gambling, online auction addiction, and obsessive online trading.
·         Information Overload (compulsive web surfing or database searches).

·         Computer Addiction (obsessive computer game-playing or to programming aspects of computer science, mostly a problem among men, children, and teenagers).

Daftar Pustaka

Internet Addiction

Psikologi dan Internet dalam Lingkup Intrapersonal 3

      I.            Pendahuluan
Cyclic information that is created through the new vessel called spinning very fast internet. Science or information in any form can be obtained in a matter of minutes, even seconds. In the rapid turnover of this information flow, tercetuslah ideas that connect people to each other with one another without having limited by distance, space and time. One is what we hear and recite with online social networking ( online ).

Because of these factors will arise a new problem that Internet Addiction Disorder ( IAD ). or internet addiction disorder includes all sorts of things related to the Internet such as social networking, email, pornography, online gambling, online gaming, chat and others. This type of disorder is not listed in the diagnostic and statistical manual of mental disorders, or commonly referred to as the DSM, but is said to be close to the shape of the shape due to gambling addiction, in addition to the body of psychologists in the United States set formally states that addiction is included in one form of the disorder.

   II.            Rumusan Masalah
1.      How addiction phenomenon due to the impact of human interaction and the internet?

III.            Tujuan
1.      Students can explain the phenomenon of addiction that occurs as a result of human interaction and the internet

IV.            Pembahasan
Internet addiction? Sounds unlikely, right? How can the use of a positive, dynamic force like the Internet become a negative, debilitating factor in someone’s life. Simple. Just like the use of food, the drinking of alcohol, or the purchasing of material things can escalate into misuse and abuse, so can one’s interest in and preoccupation with using the Internet become an addiction. Let’s take a look at several key facets of this developing phenomenon of Internet Addiction, starting with a basic definition which is taken from Dr. Kimberly B. Young’s book Caught in the Net.

What is Internet Addiction?
Internet Addiction is a broad term covering a wide-variety of behaviors and impulse control problems. It is important to understand that there are at least five specific types of Internet addiction:
·         Cybersexual Addiction (addictions to adult chat rooms or cyberporn).
·         Cyber-relationship Addiction (online friendships made in chat rooms, MUDs, or newsgroups that replace real-life friends and family, this also includes the issue of cyberaffairs).
·         Net Compulsions (compulsive online gambling, online auction addiction, and obsessive online trading.
·         Information Overload (compulsive web surfing or database searches).
·         Computer Addiction (obsessive computer game-playing or to programming aspects of computer science, mostly a problem among men, children, and teenagers).

  V.            Kesimpulan
Internet Addiction is a broad term covering a wide-variety of behaviors and impulse control problems. It is important to understand that there are at least five specific types of Internet addiction:
·         Cybersexual Addiction
·         Cyber-relationship Addiction
·         Net Compulsions
·         Information Overload
·         Computer Addiction

Daftar Pustaka

Kamis, 26 Desember 2013

Peran Sosial Individu dan Dampak Negatif Dalam Penggunaan Internet (Tulisan)

Psikologi dan Internet dalam Lingkup Interpersonal 2

A.        Peran Sosial Individu
Perilaku prososial mencakup kategori yang lebih luas yaitu meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong dan bermanfaat bagi orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong.Determinisme teknologi karena melihat teknologi sebagai besar penggerak dan pengocok balik transformasi sosial yang besar pada tingkat intuisi, interaksi sosial dan kognisi individu.

Prososial : perilaku yang menguntungkan bagi penerima tetapi tidak memiliki keuntungan untuk pelakunya.  pengertian perilaku prososial mencakup tindakan-tindakan: sharing (membagi), cooperative (kerjasama), helping (menolong), honesty (kejujuran), serta mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain. Contonya perilaku prososial meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong, tanpa memperhatikan motif penolongnya. Perilaku prososial mencakup kategori yang lebih luas yaitu meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong.

B.        Dampak Negatif Dalam Penggunaan Internet

1. Dampak pada perkembangan fisik
Interaksi remaja dengan internet banyak mengurangi aktivitas gerak karena konsep dari internet adalah memudahkan kehidupan manusia sehingga akan banyak mengurangi dalam bergerak. Saat ini dalam beraktivitas para remaja sudah banyak menggunakan perantara internet. Hal tersebut menyebabkan perkembangan fisik remaja yang terlalu dipapar oleh internet banyak mengalami physical decline. Contohnya problem visual seperti kelelahan mata, sakit kepala bahkan penglihatan kabur karena remaja lebih rentan daripada orang dewasa terhadap cahaya dan radiasi yang dipancarkan dari perangkat internet.

2. Dampak pada perkembangan sosial dan emosi
Pengaruh negatif dari jejaring sosial ini dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut :
a. Hilangnya privasi
b. Cyber-Bullying
c. Stranger-Danger
d. Cyber-Stalking
3. Dampak pada perkembangan inteligensi
Dampak negatif dalam inteligensi dibuktikan oleh Lady Susan Greenfield, ahli syaraf dan profesor farmakologi sinaptik pada Lincoln College, Oxford, dan direktur Royal Institution. Beliau berpendapat bahwa remaja yang menggunakan internet secara berlebihan akan memiliki kecenderungan untuk mengalami hambatan dalam rentang perhatian, kebutuhan melakukan stimulasi secara segera (tidak sabar) , dan "rasa kebingungan dalam identitas." Selain itu internet juga berdampak pada penalaran kritis karena hampir semua informasi telah tersedia sehingga para remaja menjadi kurang terampil dan cenderung untuk berkosentrasi hanya pada satu hal untuk jangka waktu yang lama dan menyulitkan remaja untuk memecahkan masalah yang membutuhkan waktu pendek dan kompleks.

4. Dampak pada perkembangan moral
Dampak dalam perkembangan moral terutama terjadi karena pemaparan pada situs-situs yang banyak mengandung unsur pornografi dan kekerasan. Banyak kasus di Indonesia tentang kekerasan dan kejahatan seksual pada remaja yang baik pelaku maupun korbannya adalah remaja akibat eksposure terhadap situs-situs internet yang tidak dikontrol oleh orangtua maupun orang dewasa lain yang bertanggungjawab terhadap perkembangan remaja di Indonesia.
Dampak negatif dalam perkembangan moral juga dapat terjadi karena adanya kesempatan untuk mengunduh isi situs tanpa ijin. Banyak orangtua yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak mencuri bahkan mungkin memberikan hukuman bila anaknya melakukan tindak pencurian. Namun bila hal tersebut dilakukan dengan perangkat internet (contohnya mengunduh secara illegal baik lagu atau film dengan berbagai cara), maka punishment dari orangtua sering tidak diterapkan.

Daftar Pustaka

Gackenbach. 2007. Psychology and the Internet: Intrapersonal,Interpersonal, and transpersonal implications. Kanada. Academic Press.

Peran Sosial Individu dan Dampak Negatif Dalam Penggunaan Internet

Psikologi dan Internet dalam Lingkup Interpersonal 2

I.                   Pendahuluan
Setiap pengguna internet memiliki peran tersendiri dalam berinteraksi didalam dunia maya. Peran social seseorang dalam berinteraksi di dalam dunia maya juga menentukan perilaku atau kelakuan oarng itu sendiri. Seperti peran negative atau perilaku yang dilakukan seseorang akan membawa peran negative juga, tidak hanya terhadap diri sendiri melainkan terhadap masyarakat luas.

II.                Rumusan Masalah
1.      Bagaimana peran sosial individu dalam Internet?
2.      Apa dampak negatif dalam pengunaan Internet?
                                                                                 
III.             Tujuan
1.     Mahasiswa dapat menjelaskan tentang peran sosial individu dalam Internet terutama yang berkaitan dengan pro-sosial.
2.    Mahasiswa dapat menjelaskan fenomena perilaku individu sebagai dampak negatif dari interaksi dengan Internet.

IV.             Pembahasan

A.        Peran Sosial Individu
Perilaku prososial mencakup kategori yang lebih luas yaitu meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong dan bermanfaat bagi orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong.Determinisme teknologi karena melihat teknologi sebagai besar penggerak dan pengocok balik transformasi sosial yang besar pada tingkat intuisi, interaksi sosial dan kognisi individu.

Prososial : perilaku yang menguntungkan bagi penerima tetapi tidak memiliki keuntungan untuk pelakunya.  pengertian perilaku prososial mencakup tindakan-tindakan: sharing (membagi), cooperative (kerjasama), helping (menolong), honesty (kejujuran), serta mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain. Contonya perilaku prososial meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong, tanpa memperhatikan motif penolongnya. Perilaku prososial mencakup kategori yang lebih luas yaitu meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong.

B.        Dampak Negatif Dalam Penggunaan Internet

1. Dampak pada perkembangan fisik
Interaksi remaja dengan internet banyak mengurangi aktivitas gerak karena konsep dari internet adalah memudahkan kehidupan manusia sehingga akan banyak mengurangi dalam bergerak. Saat ini dalam beraktivitas para remaja sudah banyak menggunakan perantara internet. Hal tersebut menyebabkan perkembangan fisik remaja yang terlalu dipapar oleh internet banyak mengalami physical decline. Contohnya problem visual seperti kelelahan mata, sakit kepala bahkan penglihatan kabur karena remaja lebih rentan daripada orang dewasa terhadap cahaya dan radiasi yang dipancarkan dari perangkat internet.

2. Dampak pada perkembangan sosial dan emosi
Pengaruh negatif dari jejaring sosial ini dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut :
a. Hilangnya privasi
b. Cyber-Bullying
c. Stranger-Danger
d. Cyber-Stalking
3. Dampak pada perkembangan inteligensi
Dampak negatif dalam inteligensi dibuktikan oleh Lady Susan Greenfield, ahli syaraf dan profesor farmakologi sinaptik pada Lincoln College, Oxford, dan direktur Royal Institution. Beliau berpendapat bahwa remaja yang menggunakan internet secara berlebihan akan memiliki kecenderungan untuk mengalami hambatan dalam rentang perhatian, kebutuhan melakukan stimulasi secara segera (tidak sabar) , dan "rasa kebingungan dalam identitas." Selain itu internet juga berdampak pada penalaran kritis karena hampir semua informasi telah tersedia sehingga para remaja menjadi kurang terampil dan cenderung untuk berkosentrasi hanya pada satu hal untuk jangka waktu yang lama dan menyulitkan remaja untuk memecahkan masalah yang membutuhkan waktu pendek dan kompleks.

4. Dampak pada perkembangan moral
Dampak dalam perkembangan moral terutama terjadi karena pemaparan pada situs-situs yang banyak mengandung unsur pornografi dan kekerasan. Banyak kasus di Indonesia tentang kekerasan dan kejahatan seksual pada remaja yang baik pelaku maupun korbannya adalah remaja akibat eksposure terhadap situs-situs internet yang tidak dikontrol oleh orangtua maupun orang dewasa lain yang bertanggungjawab terhadap perkembangan remaja di Indonesia.
Dampak negatif dalam perkembangan moral juga dapat terjadi karena adanya kesempatan untuk mengunduh isi situs tanpa ijin. Banyak orangtua yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak mencuri bahkan mungkin memberikan hukuman bila anaknya melakukan tindak pencurian. Namun bila hal tersebut dilakukan dengan perangkat internet (contohnya mengunduh secara illegal baik lagu atau film dengan berbagai cara), maka punishment dari orangtua sering tidak diterapkan.

V.                Kesimpulan

Efek positif dan negatif yang seolah kontradiktif membuktikan bahwa dampak dari internet sangat tergantung dari penggunanya. justru komunikasi yang efektif antara orangtua dan remaja serta adanya bimbingan yang tepat. Sebuah skenario win-win solution, jika orang tua mengizinkan remaja untuk memaksimalkan manfaat internet sambil meminimalkan sisi negatif dari internet. Para remaja berhak mendapatkan yang terbaik dari apa yang ditawarkan oleh internet, namun orangtua harus strategis dalam membimbing remaja untuk menggunakan internet dalam meningkatkan pengalaman belajar dan menghasilkan efek yang positif.

Internet ada untuk membantu kehidupan manusia. Oleh karena itu semua pihak, sebagai pemerintah, masyarakat, dan media perlu ikut bertanggung jawab menghadapi tantangan kemudahan hidup yang ditawarkan internet di masa depan. Karena hal tersebut akan berpengaruh dalam pembentukan generasi unggul di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka

Gackenbach. 2007. Psychology and the Internet: Intrapersonal,Interpersonal, and transpersonal implications. Kanada. Academic Press.



Aspek Psikologis dan Aspek Demografis Individu Pengguna Internet (Tulisan)

Psikologi dan Internet Dalam Lingkup Intrapersonal 1

A.        Aspek Psikologis dari individu pengguna internet.

Banyak sekali terjadinya fenemona identitas diri melalui internet secara identitas nyata maupun identitas virtual yang memungkinkan individu mengubah sama sekali identitas nyatanya ke sebuah identitas lain yang sifatnya virtual dan karakteristik seseorang indvidu.
Saat ini banyak sekali jejaring sosial yang bermuculan, seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram dan lain-lain. Banyak orang  yang mengunakan identitas palsu atau bisa disebut anonim untuk mendaftrakan diri / menjadi penguna aktif dari salah satu jaringan sosial. Antaralain faktor-faktor yang membuat seseorang mengunakan identitas palsu adalah untuk menutup jejak didunia maya, dan menjaga repotasi harga diri. Dimana seseorang ingin meluapkan emosinya didunia maya, tanpa diketahui oleh orang lain siapa dia sebenarnya.
Karakteristik seseorang akan telihat berbeda, ketika dia berada didunia nyata dengan saat dia berada di jejaring sosial. Saat didunia nyata mungkin dilihat karakternya sangat pendiam dan tidak mudah bergaul atau tidak asik untuk diajak berbicara, namun lain halnya saat didunia maya. Karakter dia menjadi anak yang mudah bergaul dan asik untuk diajak bebicara.
Dalam jurnal ini paparkan oleh Vivi Sahfitri bahwa : Berdasarkan hasil pembahasan dan analisa yang telah dilakukan serta sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian, maka diambil kesimpulan sebagai berikut :

1.   Berdasarkan uji korelasi dan regresi diperoleh fakta bahwa secara parsial tidak ada hubungan atau pengaruh yang signifikan antara Variabel pemanfaatan e-learning terhadap   Prestasi belajar mahasiswa. Pada Kondisi ini dapat dijelaskan secara sendiri-sendiri atau parsial tidak terdapat pengaruh pemanfaatan e-learning terhadap prestasi belajar Mahasiswa.

2.  Pengaruh secara parsial dari variabel pemanfaatan e-learning dengan  kemampuan pemahaman mahasiswa berdasarkan uji yang telah dilakukan menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Pada Kondisi ini dapat dijelaskan secara sendiri-sendiri atau parsial terdapat pengaruh pemanfaatan e-learning  terhadap Kemampuan pemahaman mahasiswa.

3.  Hasil pengujian regresi yang dilakukan secara bersama-sama atau uji serentak di peroleh hasil bahwa Pengaruh secara bersama dari variabel pemanfaatan e-learning dengan  Prestasi  belajar mahasiswa dan kemampuan pemahaman Mahasiswa menunjukkan pengaruh yang signifikan dan positif.

Dalam Jurnal Perilaku Penggunaan Internet pada Kalangan Remaja di Perkotaan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Astutik Nur Qomariyah, mengenai perilaku penggunaan internet pada kalangan remaja di perkotaan dengan berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah diajukan, maka peneliti dapat menyimpulkan tiga hasil temuan penelitian. Yaitu :
Pertama, usia responden saat pertama kali mengenal dan menggunakan internet ialah 12 tahun. Rata-rata saat itu mereka telah memasuki kelas VII SMP, dimana tugas-tugas sekolah yang diberikan mulai mengharuskan mereka mencari sumber atau bahan-bahannya di internet sehingga mereka dituntut harus bisa menggunakan internet. Sebagian besar remaja perkotaan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa teman sebaya (peer groups) dijadikan sebagai sumber belajar pertama kali berinternet bagi mereka, baik untuk bisa melakukan aktivitas-aktivitas intenet tertentu yang lebih bersifat kesenangan (seperti: chatting, bermain game online, membuat account di salah satu situs social networking atau bahkan mengunjungi situs-situs pornografi) maupun membantu mereka untuk kepentingan akademis yakni mencari bahan atau sumber untuk menyelesaikan tugas sekolah.

Berdasarkan aspek intensitas penggunaan internet, sebagian besar remaja perkotaan lebih sering mengakses internet di warnet meskipun di sekolah mereka terdapat fasilitas internet yang dapat dimanfaatkan secara free (baik di laboratorium komputer atau perpustakaan sekolah). Frekuensi internet yang digunakan bagi remaja perkotaan yang sering mengakses internet di rumah cenderung lebih sering dengan durasi setiap kali mengakses internet lebih lama dibandingkan dengan remaja perkotaan yang sering mengakses internet di tempat lainnya, seperti: warnet, sekolah atau wifi area. Dari jumlah waktu penggunaan internet per bulan menunjukkan bahwa pada umumnya kalangan remaja di perkotaan yang sering mengakses internet di rumah termasuk dalam kategori heavy users (pengguna internet yang menghabiskan waktu lebih dari 40 jam per bulan). Sedangkan remaja di perkotaan yang sering mengakses internet di warnet dan memanfaatkan wifi area publik sebagai tempat akses internet mereka dikategorikan sebagai medium users (pengguna internet yang menghabiskan waktu antara 10 sampai 40 jam per bulan). Sementara itu, bagi remaja di perkotaan yang sering mengakses internet dengan memanfaatkan layanan internet yang tersedia di sekolah menunjukkan bahwa pada umumnya mereka tergolong sebagai light users(pengguna internet yang menghabiskan waktu kurang dari 10 jam per bulan).

Kalangan remaja di perkotaan menggunakan internet untuk untuk empat dimensi kepentingan, yaitu informasi(information utility), aktivitas kesenangan (leisure/fun activities), komunikasi (communication), dan transaksi(transactions).

B. Aspek Demografis dari individu pengguna internet.
Situs jejaring social memiliki beragam fitus teknis. Namun pada umunya, mereka memuat dan memperlihatkan profil penggunanya serta daftar teman yang juga merupakan pengguna dalam system tersebut. Umumnya profil disusun berdasarkan pernyataan yang mengacu pada usia, gender,  lokasi, dan “tentang saya”. Biasanya pengguna dapat mengetahui gender pengguna lain berdasarkan nama atau foto profil yang diunggah pengguna lain. Ini digunakan untuk memperkenalkan diri kepada dunia maya tentang siapa dan bagaimana tentang dirinya.

Berangkat dari studi mengenai komunikasi interpersonal dan media, para peneliti telah mengembangkan tipologi untuk berbagai motif dalam penggunaan internet, yaitu:

1.      Kegunaan interpersonal
2.      Mengisi waktu luang
3.      Pencarian informasi
4.      Kemudahan/kenyamanan

5.      Hiburan

Daftar Pustaka